image1 image2 image3

SEASONS CHANGE, SO DO PEOPLE| WELCOME TO MY BLOG| PEOPLE CALLED ME GINA

Arah Masa Depan



     Pernahkah kau tersesat di tengah jalan? Bimbang memilih arah mana yang akan kau tuju? Namun juga tak tau jalan untuk kembali ke tempat asalmu? Kira-kira apa yang akan kamu rasakan saat itu? Menangiskah? Berusahakah? Putus asa?
     Kau tau, kini aku merasakannya kawan. Dulu saat aku masih jauh dari persimpangan ini. Aku besihkeras memilih arah yang berbelok ke kiri. Namun sekarang saat aku semakin dekat dengan persimpangan, aku berfikir arah kiri adalah jalan buntu.
     Jika aku bisa aku ingin kembali. Berbalik arah ke kotaku yang lama. Tempat di mana aku mendapatkan segalanya. Seketika aku tersadar. Hidup sama seperti waktu. Hanya bisa berjalan maju, tak bisa berbalik walau hanya sekian detik aja.
     Aku merenungi apa saja yang telah aku perbuat. Apakah aku hanya diam bernafas selama 16 tahun ini? Konyol sekali pikirku. Apa dan untuk apa aku hidup, maaf aku tidak bisa menjawabnya. “Tolol” runtukku dalam hati.
     Aku ingin kembali. Ke kotaku kecil. Berbuat sesuka hati, tanpa beban, lepas. Berlari ke sana-ke mari. Bermain itu dan ini. Bisakah aku terus menjadi anak kecil. Yang selalu dimanja? Yang selalu bahagia? Yang tak pernah punya beban?
     Beberapa meter lagi aku sampai di persimpangan. Aku harus memutuskan sekarang juga. Arah kanan atau kiri? Mana yang akan mengantarku sampai kota tujuan? Mau tak mau aku harus sampai di sana. Sebelum senja berganti menjadi gelap.
     Aku berharap mungkin aku akan bertemu seseorang di persimpangan dan berjalan bersama-sama menuju kota. Aku penasaran namun juga takut. Seperti apakah kota itu? Apa lebih bagus dari kotaku yang dulu?
     “Beberapa meter lagi” gumamku. Aku menguatkan diri sendiri. Arah manapun yang akan aku ambil, aku yakin tetap akan sampai di kota baruku. Aku akan mengambil arah ini dan akan menanggung resiko apasaja dengan kota baru.
     Aku tidak akan menyesal. Satu langkah lagi aku sampai di persimpangan. Maaf aku memilih arah kiri bukan kanan. Maaf jika aku mengecewakan kalian. Maaf atas pilihanku ini. Maaf, beribu kata maaf.
     Aku terus berjalan menyusuri arah kiri. Aku berharap tidak ada persimpangan berikutnya. Aku berharap segera menemukan kota baru. Segalanya aku berharap atas keputusan. Apapun yang aku pilih aku harus yakin ini memang benar.
     Terus berjalan tanpa lelah. Aku pasti akan menemukan kota. Dimanapun dia berada aku akan mencapainya.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar