You and I (Part 2)
(Boy PoV)
Aku melihat dia. Tampak cantik sama seperti dulu dan akan selalu
cantik di mataku. Aku menghilang bukan karena menghindar dari masalah yang
kuciptakan. Aku hanya ingin memperbaiki. Jika aku menghilang aku yakin dia akan
melupakanku.
Kulihat ditersenyum, bukan
senyum yang dulu. Ada apa dengannya? Harusnya dia bahagia bukan tersenyum
seperti itu.
Jujur. Aku tidak rela ada
orang lain yang memilikinya. Dari pertama kali kami bertemu dia hanya untukku.
Dia terlalu indah dan hanya aku yang boleh menyentuhnya!
Aku egois? Siapa bilang?
Jika aku egois aku sudah membawanya pergi dan hanya hidup berdua bersamanya.
Dulu aku yang salah.
Membiarkan hubungan saudara ini terlalu jauh berjalan. Memeluk bahkan
menciumnya merupakan hal yang wajar dulu. Bahkan Yudas yang menghianati Yesus
kupikir tidak terlalu dosa dibanding aku
Dia tidak salah, aku yang
salah. Walau dia salah aku tetap akan menggantikan kesalahannya. Dia harus
kulindungi walau sekarang dia milik laki-laki itu. Dia batu pualam yang tidak
boleh pecah. Aku berjanji.
Acara itu sudah selesai.
Inikah dia? Dia di depan mataku sekarang? Menanyakan kabarku disertai
airmatanya yang mulai mengalir di pipinya.
Kuurungkan niatku untuk
menyentuh pipinya. Aku takut kita akan kembali seperti dulu. Aku hanya berdiri
mematung sambil berkata “Baik” sekenanya.
Aku tahu dia merindukanku dari matanya.
Aku tak tahan lagi. Aku menyentuhnya, memeluknya. Kuhirup kuat-kuat aroma
tubuhnya yang sudah lama tak kutemui. Dia membalas pelukanku sambil menangis di
dadaku.
Mungkin ini yang terakhir kali, aku
berharap. Kukecup keningnya dan berkata,
“Kamu memang bukan milik aku, aku cuma ingin
melihat kamu bahagia. Senyum dong!”.
“Aku akan tersenyum, tapi kamu janji
jangan pergi lagi” sedunya disela isakannya.
Aku hanya mengangguk. Ku harap dosa itu
sudah hilang. Walau aku mencintainya aku harus berusaha menolaknya. Aku tahu
Tuhan punya cara. Aku dan dia dilahirkan untuk saling melengkapi bukan saling
memiliki.
